Tuesday, June 25, 2013

ABOUT HEPATITIS A B C

Posted by deemd 7:49 AM, under | 1 comment

About Hepatitis

The word hepatitis simply means an inflammation of the liver without pinpointing a specific cause. Someone with hepatitis may:
  • have one of several disorders, including a viral or bacterial infection of the liver
  • have a liver injury caused by a toxin (poison)
  • have liver damage caused by interruption of the organ's normal blood supply
  • be experiencing an attack by his or her own immune system through an autoimmune disorder
  • have experienced abdominal trauma in the area of the liver
Hepatitis is most commonly caused by one of three viruses:
  1. the hepatitis A virus
  2. the hepatitis B virus
  3. the hepatitis C virus
In some rare cases, the Epstein Barr virus (which causes mononucleosis) also can result in hepatitis because it can cause liver inflammation. Other viruses and bacteria can cause hepatitis, including hepatitis D and E, chickenpox, and cytomegalovirus (CMV).

Hepatitis A

Hepatitis A (also called infectious hepatitis) is a common form of hepatitis in children. It's caused by the hepatitis A virus (HAV), which is present in the stool (feces or poop) of infected people. Infected stool might be found in small amounts in food and on objects (such as doorknobs and diapers). Hepatitis A can remain in the stool for several months after the initial illness, especially in younger babies and children.
HAV is spread:
  • when someone ingests anything contaminated with HAV-infected stool (making it easy for the virus to spread in overcrowded, unsanitary living conditions)
  • in water, milk, and foods (especially shellfish)
Because hepatitis A can be a mild infection, particularly in children, some people might not know that they've had it. HAV can cause prolonged illness for up to 6 months, but usually only causes short-lived, mild illness. It does not cause chronic liver disease. In milder cases, symptoms may be similar to a stomach virus (with vomiting and diarrhea).

Hepatitis B

Hepatitis B (also called serum hepatitis) is caused by the hepatitis B virus (HBV). HBV can cause a wide range of symptoms, from a mild illness and general feeling of being unwell to more serious chronic liver disease that can lead to liver cancer.
HBV spreads through:
  • infected body fluids, such as blood, saliva, semen, vaginal fluids, tears, and urine
  • a contaminated blood transfusion (this is uncommon in the United States)
  • shared contaminated needles or syringes for injecting drugs
  • sexual activity with an HBV-infected person
  • transmission from HBV-infected mothers to their newborn babies

Hepatitis C

The hepatitis C virus (HCV) is spread by direct contact with an infected person's blood. Symptoms can be very similar to those of hepatitis A and B. However, infection with HCV can lead to chronic liver disease and is a leading reason for liver transplantation in the United States. Chronic HCV infection is also associated with liver cancer.
HCV is more common in adults than in children. In kids, it's often acquired through transmission from a mother to her newborn. It also can be spread by:
  • sharing drug needles and intranasal drug use (snorting drugs)
  • getting a tattoo or body piercing with unsterilized tools
  • blood transfusions or organ transplants (especially before 1992; since then the U.S. blood supply and donated organs have been routinely screened for hepatitis C)
  • sexual contact (although this is less common)
  • hemodialysis (especially before 1990)
Rarely, people living with an infected person can contract HCV by sharing items that might contain that person's blood, such as razors, toothbrushes, or scissors.

Diagnosis

All of these viral hepatitis conditions can be diagnosed through blood tests.
Liver function tests might be used to determine how well the liver is working or if it is damaged. Sometimes, a liver biopsy (the removal of a small liver tissue sample for examination) is done to further check for organ damage. A liver biopsy also can help doctors choose the best treatment.
Ultrasounds or CAT scans can check for any progression to cancer, particularly in chronic HBV and HCV infection.

 taken from : http://kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/hepatitis.html#a_Hepatitis_C

Thursday, June 20, 2013

GULA REDUKSI

Posted by deemd 11:41 PM, under | No comments


Cara penentuan Gula Reduksi Munson-Walker | Uji Karbohidrat
Cara penentuan Gula Reduksi cara Munson-Walker. Penentuan gula reduksi cara Munson-Walker dipakai untuk penentuan glukosa, fruktosa, gula invert, laktosa monohidrat dalam bahan yang baik bahan pangan yang tidak mengandung sakarosa ataupun bahan pangan yang mengandung sakarosa.
Penentuan gula reduksi Munson-Walker adalah penentuan gula reduksi yang didasarkan atas banyaknya endapan Cu2O yang terbentuk. Jumlah Cu2O ditentukan dapat ditentukan melalui dua cara, yaitu:
  1. Secara gravimetris, yaitu dengan menimbang langsung endapan Cu2O yang terbentuk
  2. Secara volumetris, yaitu dengan titrasi menggunakan larutan Na-thiosulfat atau K-permanganat
Setelah jumlah Cu2O ditentukan lalu gunakan tabel Hammond untuk mengetahui jumlah gula reduksi yang terkandung dalam bahan tersebut.  Dalam penentuan Gula Reduksi cara Munson-Wakler ada tiga langkah yang harus dilakukan. Langkah-langkah dalam menentukan gula reduksi cara Munson-Walker adalah sebagai berikut:
src: Prosedur analisa untuk bahan makanan & pertanian ed III – Text Book
Anda sedang membaca artikel Cara penentuan Gula Reduksi Munson-Walker | Uji Karbohidrat jika ingin menautkan artikel Cara penentuan Gula Reduksi Munson-Walker | Uji Karbohidrat permalinknya adalah http://kamusq.blogspot.com/2012/09/cara-penentuan-gula-reduksi-munson.html
Terima Kasih sudah membaca Cara penentuan Gula Reduksi Munson-Walker | Uji Karbohidrat Semoga artikel Cara penentuan Gula Reduksi Munson-Walker | Uji Karbohidrat ini bermanfaat untuk Anda semua. Amin


Analisa Gula Reduksi (Sudarmadji dkk, 2007)

Kadar gula reduksi ditetapkan dengan menggunakan cara spektrofotometri, metode Nelson-Somogyi.



Reagensia
a.    Reagensia Nelson:
Reagensia Nelson A: larutkan 12,5 g Natrium karbonat anhidrat, 12,5 g garam Rochelle, 10 g Natrium bikarbonat dan 100 g Natrium sulfat anhidrat dalam 350 ml air suling. Encerkan sampai 500 ml.
Reagensia Nelson B: larutkan 7,5 g CuSO4.5H2O dalam 50 ml air suling dan tambahkan 1 tetes asam sulfat pekat.
Reagensia Nelson dibuat dengan cara mencampur 25 bagian reagensia Nelson A dan 1 bagian reagensia Nelson B. Pencampuran dikerjakan pada setiap hari akan digunakan.
b.    Reagensia Arsenomolybdat
Larutkan 25 g Ammonium molybdat dalam 450 ml air suling dan tambah 25 ml asam sulfat pekat. Larutkan pada tempat yang lain 3 g Na2HAsO4.7H2O dalam 25 ml air suling, kemudian tuanglah larutan ini ke dalam larutan yang pertama. Simpan dalam botol wwarna coklat dan diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam. Reagensia ini baru bisa digunakan setelah masa inkubasi tersebut, reagensia ini berwarna kuning.
c.    Pb-asetat
Buat larutan Pb-asetat jenuh dan netralkan dengan NaOH. Untuk menghilangkan kelebihan Pb yang digunakan dalam penjernihan, tambahkan ke dalam filtrat K atau Na-oksalat anhidrat secukupnya.
d.    Aluminium hidroksida
Larutan tawas dalam air (1:20), masukkan ke dalam ammonia 10% (1 bagian tawas: 1,1 bagian ammonia 10%). Endapan yang diperoleh dibiarkan mengendap, cairan yang terdapat diatasnya dituang. Endapan ditambah air, diaduk, dibiarkan, kemudian cairan dituang lagi. Pekerjaan ini diulang kembali sampai cairannya tidak bereaksi basis. Endapannya disimpan sebagai pasta.

Pembuatan Kurva Standar
a.    Buat larutan glukosa standar (10 mg glucose anhidrat/100 ml).
b.    Dari larutan glukosa standar tersebut dilakukan 6 pengenceran sehingga diperoleh larutan glukosa dengan konsentrasi : 2, 4, 6, 8 dan 10 mg/100 ml.
c.    Siapkan 7 tabung reaksi yang bersih, masing-masing diisi dengan 1 ml larutan glukosa standar tersebut diatas. Satu tabung diisi 1 ml air suling sebagai blanko.
d.    Tambahkan ke dalam masing-masing tabung diatas 1 ml reagensia Nelson (reagensia a), dan panaskan semua tabung pada penangas air mendidih selama 20 menit.
e.    Ambil semua tabung dan segera dinginkan bersama-sama dalam gelas piala yang berisi air dingin sehingga suhu tabung mencapai 25oC.
f.     Setelah dingin tambahkan reagensia Arsenomolybdat (reagensia b), gojog sampai semua endapan Cu2O yang ada larut kembali.
g.    Setelah semua endapan Cu2O larut sempurna, tambahkan 7 ml air suling gojoglah sampai homogeny.
h.    Teralah “optical density” (OD) masing-masing larutan tersebut pada panjang gelombang 540 nm.
i.      Buatlah kurva standar yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi glukosa dan OD.

     Penentuan Gula Reduksi pada Sampel:
a.    Siapkan larutan sampel yang mempunyai kadar gula reduksi sekitar 2–8 mg/100 ml. Perlu diperhatikan bahwa larutan contoh ini harus jernih, karena itu bila dijumpai larutan contoh yang keruh atau berwarna maka perlu dilakukan penjernihan terlebih dahulu menggunakan Pb-asetat atau bubur aluminium hidroksida (reagensia c dan d).
b.    Pipetlah 1 ml larutan contoh yang jernih tersebut ke dalam tabung reaksi yang bersih.
c.    Tambahkan 1 ml reagensia Nelson, dan selanjutnya diperlakukan seperti pada penyiapan kurva standar diatas.
d.    Jumlah gula reduksi dapat ditentukan berdasarkan OD larutan contoh dan kurva standar larutan glukosa.

Wednesday, June 5, 2013

DESTILASI

Posted by deemd 11:37 PM, under | No comments

Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu campuran yang berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari campuran tersebut adalah mampu-campur dan mudah menguap, selain itu komponen-komponen tersebut mempunyai perbedaan tekanan uap dan hasil dari pemisahannya menjadi komponen-komponennya atau kelompokkelompok komponen. Karena adanya perbedaan tekanan uap, maka dapat dikatakan pula proses penyulingan merupakan proses pemisahan komponen-komponennya berdasarkan perbedaan titik didihnya.

Pada operasi distilasi, terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bahwa bila campuran cair ada dalam keadaan setimbang dengan uapnya,komposisi uap dan cairan berbeda. Uap akan mengandung lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap, sedangkan cairan akan mengandung lebih sedikit komponen yang mudah menguap. Bila uap dipisahkan dari cairan, maka uap tersebut dikondensasikan, selanjutnya akan didapatkan cairan yang berbeda dari cairan yang pertama, dengan lebih banyak komponen yang mudah menguap dibandingkan dengan cairan yang tidak teruapkan. Bila kemudian cairan dari kondensasi uap tersebut diuapkan lagi sebagian,akan didapatkan uap dengan kadar komponen yang lebih mudah menguap lebih tinggi. Untuk menunjukkan lebih jelas uraian tersebut,berikut digambarkan secara skematis:
1.Keadaan awal
Mula-mula, pada cairan terdapat campuran A dan B, dimana karakteristik dari komponen-komponen tersebut adalah komponen A lebih mudah menguap (volatil) dibanding komponen B.Komposisi dari kedua komponen tersebut dinyatakan dengan fraksi mol.Untuk fase cair komponen A dinyatakan dengan xA, sedangkan komponen B dinyatakan dengan xB.
2. Campuran diuapkan sebagian, uap dan cairannya dibiarkan dalam keadaan setimbang.
3.Uap dipisahkan dari cairannya dan dikondensasi; maka didapat dua cairan,cairan I dan cairan II. Cairan I mengandung lebih sedikit komponen A (lebih mudah menguap) dibandingkan cairan II
Pada kondisi diatas, dari campuran dua komponen cairan (campuran biner) akan didapat dua cairan yang relatif murni.Hal ini dapat terlaksana,apabila beda titik didih dari kedua komponen tersebu relatif besar.Apabila perbedaan titik didih dari kedua komponen tersebut tidak terlalu jauh,maka perlu dilakukan proses penyulingan sebagaimana ditunjukkan pada gambar 4.62.
Pada gambar 4.62 merupakan contoh alat penyuling (distillation) kontinyu (sinambung). Pada gambar tersebut terlihat pendidih ulang (reboiler) yang mendapat umpan berupa zat cair secara kontinyu yang merupakan komponen yang akan dipisahkan. Karena adanya panas yang masuk (pemanasan) pada pendidih-ulang, maka zat cair masuk akan diubah sebagian menjadi uap, dalam hal ini uap akan kaya dengan komponen yang volatil (mudah menguap).
Apabila perbedaan titik didih dari komponen tersebut relatif tinggi, maka uapnya hampir merupakan komponen murni.Akan tetapi apabila perbedaan titik didih dari komponen tersebut,tidak terlalu besar,maka uap merupakan campuran dari beberapa komponen.Kemudian uap campura tersebut dikondensasikan, kemudian zat cair hasil kondensasi,sebagian dikembalikan kedalam kolom, yang disebut dengan refluks.
Cairan yang dikembalikan tersebut (refluks) diusahakan agar dapat kontak secara lawan arah dengan uap, sehingga diharapkan hasil atas (over head) akan meningkat kemurniannya. Untuk mendapatkan kondisi tersebut (kemurnian meningkat),diperlukan uap yang banyak agar dapat digunakan sebagai refluks dan hasil atas. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan panas yang masuk pada reboiler harus besar (ditingkatkan). Hal ini perlu dipertimbangkan, khususnya dalam rangka penghematan energi.


Dalam distilasi, fase uap yang terbentuk setelah larutan dipanasi, dibiarkan kontak dengan fase cairannya sehingga transfer massa terjadi baik dari fase uap ke fase cair maupun dari fase cair ke fase uap sampai terjadi keseimbangan antara kedua fase. Setelah keseimbangan tercapai,kedua fase kemudian dipisahkan. Fase uap setelah dikondensasikan dalam kondensor disebut sebagai distilat sedangkan sisa cairannya disebut residu.Distilat mengandung lebih banyak komponen yang volatil (mudah menguap) dan residu mengandung lebih banyak komponen yang kurang volatil.